Kamis, 08 Oktober 2015

Kebijakan Masalah Perkotaan Daerah


PERMASALAHAN DI PERKOTAAN

“GELANDANGAN DAN PENGEMIS DI KOTA MEDAN”

 

D

I

S

U

S

U

N

OLEH:

 

NAMA     : NOVITA ERDIAN SARI SINAGA

 

NPM        : 12230009

 

PRODI    : Adm.Negara

 

 

 

 

 

 


 

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

 

 

 

 

                                                         KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan yang Maha Esa karena berkat, rahmat dan karunianya, kami dapat menyelesaikan tugas makalah mengenai Gelandangan dan Pengemis di Aksara.

Adapun tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari Bapak Jhonson Pasaribu. Banyak kendala yang kami alami dalam menyusun makalah ini. Namun, itu semua tidak menyurutkan niat kami untuk menyelesaikan makalah ini.

Kami telah berupaya menyempurnakan makalah ini, namun seperti kata pepatah, “ Tak ada gading yang tak retak” maka kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari teman-teman dan orang lain yang sudi meluangkan waktunya untuk menyimak isi dari makalah ini.

Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Kami sangat berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

 

 

 

 

                                                                                                            Medan,01 Juli 2015

 

 

                                                                                                                        Penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

Kata Pengantar....................................................................................................    

Daftar Isi............................................................................................................... 

    

BAB I Pendahuluan.............................................................................................      

      Latar Belakang......................................................................................................      

      Rumusan Masalah..................................................................................................      

      Tujuan Penelitian..................................................................................................

       

BAB  II Pembahasan…........................................................................................

Pengertian.............................................................................................................. 

      Faktor Penyebab....................................................................................................      

      Dampak .................................................................................................................      

      Upaya Penanggulangan.........................................................................................

 

      BAB III PENUTUP................................................................................                  Kesimpulan............................................................................................................     

     Saran.........................................................................................................................     



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.Latar Belakang

Sampai saat ini, Indonesia masih tergolong Negara yang sedang maju  dan belum mampu menyelesaikan masalah kemiskinan. Dari beberapa banyak masalah sosial yang ada sampai saat ini, gelandangan dan pengemis adalah masalah yang perlu harus di perhatikan lebih dari pemerintah, karena saat ini masalah tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan kota-kota besar, terutama seperti Kota Medan. Penyebab dari semua itu antara lain adalah jumlah pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan lapangan pekerjaan yang memadai dan kesempatan kerja yang tidak selalu sama. Disamping itu menyempitnya lahan pertanian di desa karena banyak digunakan untuk pembangunan pemukiman dan perusahaan atau pabrik. Keadaan ini mendorong penduduk desa untuk berurbanisasi dengan maksud untuk merubah nasib, tapi sayangnya, mereka tidak membekali diri dengan pendidikan dan keterampilan yang memadai. Sehingga keadaan ini akan menambah tenaga yang tidak produktif dikota. Akibatnya, untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka bekerja apa saja asalkan mendapatkan uang termasuk meminta-minta (mengemis). Demi untuk menekan biaya pengeluaran, mereka memanfaatkan kolong jembatan, stasiun kereta api, emperan took, pemukiman kumuh dan lain sebagainya untuk beristirahat, mereka tinggal tanpa memperdulikan norma sosial.

Hidup bergelandangan tidak memungkinkan orang hidup berkeluarga, tidak memiliki kebebasan pribadi, tidak memberi perlindungan terhadap hawa panas ataupun hujan dan hawa dingin, hidup bergelandangan akan dianggap hidup yang paling hina diperkotaan. Keberadaan gelandangan dan pengemis (gepeng) di perkotaan sangat meresahkan masyarakat, selain mengganggu aktifitas masyarakat di jalan raya, mereka juga merusak keindahankota. Dan tidak sedikit kasus kriminal yang dilakukan oleh mereka, seperti mencopet bahkan mencuri dan lain-lain.Oleh sebab itulah, apabila masalah gelandangan dan pengemis tidak segera mendapatkan penanganan, maka dampaknya akan merugikan diri sendiri, keluarga, masyarakat serta lingkungan sekitarnya.

Untuk mengatasi masalah gelandangan dan pengemis (gepeng), pemerintah mengutus Polisi Pamong Praja Satpol PP untuk merazia semua gelandangan dan pengemis (gepeng) yang ada diseluruh sudut kota Medan, untuk  kemudian dijaring dan ditampung di Liponsos (lingkungan pondok sosial) Dinas Sosial Kota Medan. Hal ini bertujuan untuk membersihkan kota dari gelandangan dan pengemis, serta berupaya untuk memberikan penyadaran kepada mereka.Hal ini tentu sangat memprihatinkan sekali, mereka harus saling berdesak-desakan dalam ruangan yang sempit itu.Kondisi melebihi batas normal membuat Unit Pelaksana Teknis (UPT) Liponsos Keputih sulit untuk mengatur tempat tidur untuk para pengemis dan gepeng. Akibatnya, banyak yang terpaksa tidur di tikar dan lantai, karena jumlah kasur yang tersedia terbatas. Kondisi yang memprihatinkan tersebut ditambah lagi dengan keadaan lingkungan liponsos yang sangat kumuh dan tidak layak huni khususnya pada bangunan untuk psikotic laki-laki dan perempuan. Bayangkan saja, mereka hidup dan beraktifitas dalam ruangan kumuh, berdesak-desakan dan bercampur baur dengan kotoran mereka sendiri, sungguh pemandangan yang sangat memprihatinkan.

 

 

B.    Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

 

      Apa saja faktor yang menyebabkan munculnya gelandangan di kota Medan khususnya daerah Aksara ?

 

 

C.     Tujuan Penelitian

Sejalan dengan rumusan masalah di atas maka penelitian ini bertujuan sebagai berikut :

     Agar mahasiswa mampu memahami faktor penyebab, dampak dan upaya penanggulangan dari masalah Gelandangan dan Pengemis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian

            Gepeng merupakan Orang-orang yang tidak mempunyai tempat tinggal dan tidak mempunyai pekerjaan. Gepeng juga bisa di sebut orang  miskin atau orang yang tidak mampu.

 

Banyak pemahaman tentang kemiskinan yang di kemukakan para ahli, salah satu pemahaman yang dimaksud dikemukakan Bank dunia (1990) dan Chambers (1987) (dalam Mikkelsen,2003:193) yang memandang kemiskinan sebagai :

“Suatu kemelaratan dan ketidakmampuan masyarakat yang diukur dalam satu standar hidup tertentu yang mengacu kepada konsep miskin relatif yang melakukan analisis perbandingan di negara-negara kaya maupun miskin. Sedangkan konsep absolut dari kemiskinan adanya wabah kelaparan, ketidakmampuan untuk membesarkan atau mendidik anak-anak lain”

 

Sedangkan pemahaman tentang masalah kemiskinan, menurut Sumodiningrat (1999 : 45) :

“Masalah kemiskinan pada dasarnya bukan saja berurusan dengan persoalan ekonomi semata, tetapi bersifat multidimensional yang dalam kenyataannya juga berurusan dengan persoalan-persoalan non-ekonomi (sosial, budaya, dan politik). Karena sifat multidimensionalnya tersebut, maka kemiskinan tidak hanya berurusan dengan kesejahteraan materi (material well-being), tetapi berurusan dengan kesejahteraan sosial (social well-being).”

 

Dari pandangan di atas diperoleh suatu konsep pemahaman bahwa kemiskinan pada hakekatnya merupakan kebutuhan manusia yang tidak terbatas hanya pada persoalan-persoalan ekonomi saja. Karena itu, program pemberdayaan masyarakat miskin sebaiknya tidak terfokus pada dimensi pendekatan ekonomi saja, tetapi juga memperhatikan dimensi pendekatan lain, yaitu pendekatan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan sumber daya sosial. Menurut Supriatna (1997:90) :

“Kemiskinan merupakan kondisi yang serba terbatas dan terjadi bukan atas kehendak orang yang bersangkutan. Penduduk dikatakan miskin bila ditandai oleh rendahnya tingkat pendidikan, produktivitas kerja, pendapatan, kesehatan dan gizi serta kesejahteraan hidupnya, yang menunjukkan lingkaran ketidakberdayaan.”

 

Menurut Kartasasmita (1996:240-241), kondisi kemiskinan dapat disebabkan sekurang-kurangnya empat penyebab :

“Pertama, rendahnya taraf pendidikan. Taraf pendidikan yang rendah mengakibatkan kemampuan pengembangan diri terbatas dan menyebabkan sempitnya lapangan kerja yang dapat dimasuki. Dalam bersaing untuk mendapatkan lapangan kerja yang ada, taraf pendidikan menentukan. Taraf pendidikan yang rendah juga membatasi kemampuan untuk mencari dan memanfaatkan peluang.
Kedua, rendahnya derajat kesehatan. Taraf kesehatan dan gizi yang rendah menyebabkan rendahnya daya tahan fisik, daya pikir, dan prakarsa.
Ketiga, terbatasnya lapangan kerja. Keadaan kemiskinan karena kondisi pendidikan dan kesehatan diperberat oleh terbatasnya lapangan pekerjaan. Selama ada lapangan kerja atau kegiatan usaha, selama itu pula ada harapan untuk memutuskan lingkaran kemiskinan itu.
Keempat, Kondisi keterisolasian. Banyak penduduk miskin, secara ekonomi tidak berdaya karena terpencil dan terisolasi. Mereka hidup terpencil sehingga sulit atau tidak dapat terjangkau oleh pelayanan pendidikan, kesehatan dan gerak kemajuan yang dinikmati masyarakat lainnya.”

 

Keempat penyebab tersebut menunjukkan adanya lingkaran kemiskinan. Rumah tangga miskin pada umumnya berpendidikan rendah dan terpusat di daerah pedesaan. Karena pendidikan rendah, maka produktivitasnya pun rendah sehingga imbalan yang diterima tidak cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum, antara lain kebutuhan pangan, sandang, kesehatan, perumahan, dan pendidikan, yang diperlukan untuk dapat hidup dan bekerja.

 

Gelandangan dan Pengemis (GEPENG) adalah orang-orang yang hidup dalam keadaan tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat, serta tidak mempunyai tempat tinggal dan pekerjaan yang tetap di wilayah tertentu dan hidup mengembara di tempat umum dan mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain.

Di lingkuangan aksara lebih tepatnya di lampu merah dekat Ramayana terdapat sekitar 14 orang Gepeng yang mempunyai latar belakang kehidupan yang berbeda.
Selain itu, dampak yang ditimbulkan oleh mereka sangat meresahkan masyarakat. Mulai dari tingkat kriminalitas yang tinggi, menyebabkan kemacetan di sekitar jalan raya dan mengganggu kenyamanan pengguna jalan.

Aksara menjadi tempat mereka melakukan kegiatannya karena merupakan tempat yang ramai dan memungkinkan untuk mendapat uang yang banyak melalui meminta-minta, mengamen dan lain-lain.

 

B.   Faktor Penyebab

faktor-faktor yang menjadi penyebabnya adanya pengemis di kota Medan khusunya Aksara sebagai berikut :

 

1. Urbanisasi

 Dari 14 orang gelandangan yang berada di sekitar Aksara 10 orang diantaranya bukan merupakan penduduk asli kota medan. Mereka  merupakan orang-orang yang berasal dari luar daerah (kota medan) misalnya dari daerah Jawa, Riau dan lainnya. Kebanyakan dari mereka melakukan urabanisasi ke Medan untuk mencoba meningkatkan taraf hidup yang masih kurang di kampung. Ini sesuai dengan data dari Dinas Sosial dan Tenaga Kerja bahwa 90% gepeng di kota Medan berasal dari luar daerah

 

2. Rendahnya keterampilan

Rendahnya keterampilan merupakan faktor intrinsik yang sangat berpengaruh . Orang-orang yang datang ke kota Medan untuk merantau tanpa sebuah keahlian menjadikan peluang hidup seseorang tersebut sangat minim. Mereka datang ke Medan tanpa sebuah persiapan yang matang, mereka hanya bermodalkan semangat serta iming-iming mendapat pekerjaan yang lebih baik di Medan. Terbukti  dari  hasil survey yang kami lakukan di Aksara, gepeng yang berada di daerah itu tidak mempunyai skill atau ketrampilan tertentu yang dapat menunjang seseorang untuk mendapatkan pekerjaan.

 

3. Pendidikan Rendah

Sekitar 95 % gepeng di aksara  sangat minim dunia pendidikan. Kebanyakan dari mereka hanya tamatan SD bahkan ada yang belum sekolah. Ini membuat sulit bersaing untuk hidup di daerang yang biaya hidupnya lumayan mahal seperti kota Medan ini

4. Mempunyai kelemahan fisik atau penyakit.

Terdapat sekitar 3 orang di antara gepeng-gepeng di aksara yang menderita cacat fisik dan penyakit semacamnya. Sehingga mereka terbatas untuk melakukan pekerjaan. Faktanya, yang normal saja susah untuk bekerja, apalagi yang cacat. Terlebih mereka tidak mempunyai keluarga yang dapat mengurusi mereka dan memberi mereka kehidupan yang layak.

 

5. Lingkungan

Saat ini, ada beberapa orang anak yang menjadi gepeng dikarenakan terlahir dilingkungan gepeng. Artinya, Anak-anak yang terlahir dari orang tua yang sebagai gepeng, secara tidak langsung telah menambah jumlah gepeng dengan proses kelahiran. Ini menjadi faktor yang juga sangat memprihatinkan. Nantinya anak-anak tersebut akan kesulitan juga untuk mendapat pendidikan dan kehidupan yang layak.

Dari sekian faktor yang ada, ada 5 faktor yang menjadi penyebab adanya gelandangan di Aksara yaitu Urbanisasi, Keterampilan, Pendidikan, Kelemahan Fisik dan Lingkungan. Hal itu menjadi dasar yang membuat orang-orang tersebut terpaksa menjadi Gepeng.

 

 

C.   Dampak dari GEPENG

 

1.     Masalah lingkungan (tata ruang).

mengangu ketertiban umum, ketenangan masyrakat dan kebersihan serta keindahan kota.

 

2.   Masalah kependudukan

tidak memiliki kartu identitas (KTP/KK) yang tercatat di kelurahan (RT/RW) setempat dan sebagian besar dari mereka hidup bersama sebagai suami istri tampa ikatan perkawinan yang sah.

 

3.   Masalah keamanan dan ketertiban

menimbulkan kerawanan social, mengganggu keamanan dan ketertiban di wilayah tersebut.

 

4.     Masalah kriminalitas

kriminalitas yang di lakukan oleh para gelandangan dan pengemis di tempat keramaian mulai dari pencurian, kekerasan hingga pelecehan seksual sangat kerap terjadi.

 

 

 

D.   Upaya Penanggulangan

 

Berdasarkan data dari Dinas Sosial dan Tenaga Kerja, Sebelumnya pernah dilakukan penertiban kepada para Gepeng di Kota Medan termasuk lingkungan Aksara. Seperti Penertiban yang pernah dilakukan pada Tahun 2013, Dari hasil razia dan penertiban, anjal dan pengemis selama tahun 2013 sebanyak 151 orang dan langsung dibawa ke panti asuhan Pungi di Binjai karena Kota Medan belum memiliki panti asuhan untuk membina mereka yang kena jaring saat razia.Selama di panti asuhan mereka mendapat pembinaan bahkan diajari berkarya agar bisa mandiri. Selain itu, terdapat anak-anak dibawah umur (18 tahun), mereka di beri beasiswa agar dapat meneruskan sekolah dan tidak kembali ke jalan.  Namun kenyataannya setelah keluar, mereka kembali lagi ke jalanan. Pasalnya tidak ada tempat menetap.
Hal ini membuat pemerintah kewalahan untuk mengurangi gepeng di kota medan yang diperkirakan berjumlah sekitar 500 orang. Namun dalam hal ini, pemerintah terus berusaha melakukan razia untuk menekan angka tersebut walaupun untuk memberantasnya masih sulit.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.   Kesimpulan

Gepeng adalah orang-orang yang hidup dalam keadaan tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat, serta tidak mempunyai tempat tinggal dan pekerjaan mereka meminta-minta di muka umum dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain. Salah satu area yang rawan gepeng adalah Lampu merah dekat Ramayana Aksara. Tempat itu mereka melakukan kegiatannya karena merupakan tempat yang ramai dan memungkinkan untuk mendapat uang yang banyak melalui meminta-minta, mengamen dan lain-lain. Dari sekian faktor yang ada, ada 5 faktor yang menjadi penyebab adanya gelandangan di Aksara yaitu Urbanisasi, Keterampilan, Pendidikan, Kelemahan Fisik dan Lingkungan. Hal itu menjadi dasar yang membuat orang-orang tersebut terpaksa menjadi Gepeng. Dampak yang ditimbulkan oleh mereka sangat meresahkan masyarakat, mulai dari masalah lingkungan, kependudukan, keamanan dan ketertiban serta kriminalitas.

Berdasarkan data dari Dinas Sosial dan Tenaga Kerja, Sebelumnya pernah dilakukan penertiban kepada para Gepeng di Kota Medan termasuk lingkungan Aksara. Namun kenyataannya setelah keluar, mereka kembali lagi ke jalanan. Pasalnya tidak ada tempat menetap ditambah tidak adanya panti asuhan unutk menampung mereka untuk dineri pengarahan dan ketrampilan di kota Medan sehingga membuat pemerintah kesulitan untuk menuntas Gepeng di kota Medan.

 

B.   Penutup

Sebaiknya pemerintah agar memperhatikan gelandangan dan pengemis dengan memberikan bimbingan bukan dengan penangkapan secara keras, karena bagaimana pun juga mereka adalah anak bangsa yang mempunyai hak untuk mendapatkan hidup layak serta pendidikan dan perhatian, karena kami yakin jika mereka di berikan kesempatan untuk mendapat pendidikan dan perekonomian yang baik tentunya kelak mereka dapat mengaharumkan nama Negara dan bangsa dan juga dapat mengurangi permasalahan sosial yangt erjadi di Indonesia saat ini. Kami juga menghimbau kepada keluarga agar dapat memberikan pola asuh yang baik,sehingga tidak mendorong anak-anak penerus bangsa terjerumus didalam kehidupan sosial yang menyimpang. Upaya penanggulangan akan lebih baik lagi jika pemerintah  menyediakan panti sosial  yang mempunyai program dalam bidang pelayanan rehabilitasi dan pemberian bimbingan keterampilan (workshop) bagi gelandangan dan pengemis sehingga mereka dapat mandiri dan tidak kembali menggelandang dan mengemis, dll.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Nurmayanti, Dian Anggraini.2013. ‘Teori-teori Kemiskinan’ dalam jurnal Dian Anggraini Nurmayanti (online), (http:www. http://dianggraini06.blogspot.com/teori -teori-kemiskinan) di akses tanggal 2 Desember 2014.

 

Dinas Sosial dan Tenaga Kerja.2014. ‘KEWALAHAN TERTIBKAN ANJAL DAN PENGEMIS, 90 PERSEN GEPENG BUKAN WARGA KOTA MEDAN’ dalam jurnal Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (online),(http: http://103.15.240.154/contentkategori-detail-4261) di akses 29 Nopember 2014.

 

Edi Suharto, Membangun Masyarakat, Memberdayakan Rakyat, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2009).

Miftachul Huda, Pekerjaan Sosial dan Kesejahteraan Sosial. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009).