PERMASALAHAN DI PERKOTAAN
“GELANDANGAN DAN PENGEMIS
DI KOTA MEDAN”
D
I
S
U
S
U
N
OLEH:
NAMA : NOVITA ERDIAN SARI SINAGA
NPM : 12230009
PRODI : Adm.Negara
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan
yang Maha Esa karena berkat, rahmat dan karunianya, kami dapat menyelesaikan
tugas makalah mengenai Gelandangan dan Pengemis di Aksara.
Adapun tujuan disusunnya makalah ini adalah
untuk memenuhi tugas dari Bapak Jhonson Pasaribu. Banyak kendala yang kami
alami dalam menyusun makalah ini. Namun, itu semua tidak menyurutkan niat kami
untuk menyelesaikan makalah ini.
Kami telah berupaya menyempurnakan makalah
ini, namun seperti kata pepatah, “ Tak ada gading yang tak retak” maka kami
sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari teman-teman dan orang
lain yang sudi meluangkan waktunya untuk menyimak isi dari makalah ini.
Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu kami sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
Kami sangat berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Medan,01
Juli 2015
Penulis
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar....................................................................................................
Daftar
Isi...............................................................................................................
BAB I
Pendahuluan.............................................................................................
Latar Belakang......................................................................................................
Rumusan Masalah..................................................................................................
Tujuan
Penelitian..................................................................................................
BAB II
Pembahasan…........................................................................................
Pengertian..............................................................................................................
Faktor Penyebab....................................................................................................
Dampak
.................................................................................................................
Upaya Penanggulangan.........................................................................................
BAB III PENUTUP................................................................................
Kesimpulan............................................................................................................
Saran.........................................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Sampai saat
ini, Indonesia masih tergolong Negara yang sedang maju dan belum mampu
menyelesaikan masalah kemiskinan. Dari beberapa banyak masalah sosial yang ada
sampai saat ini, gelandangan dan pengemis adalah masalah yang perlu harus di
perhatikan lebih dari pemerintah, karena saat ini masalah tersebut sudah
menjadi bagian dari kehidupan kota-kota besar, terutama seperti Kota Medan.
Penyebab dari semua itu antara lain adalah jumlah pertumbuhan penduduk yang
tidak diimbangi dengan lapangan pekerjaan yang memadai dan kesempatan kerja
yang tidak selalu sama. Disamping itu menyempitnya lahan pertanian di desa
karena banyak digunakan untuk pembangunan pemukiman dan perusahaan atau pabrik.
Keadaan ini mendorong penduduk desa untuk berurbanisasi dengan maksud untuk
merubah nasib, tapi sayangnya, mereka tidak membekali diri dengan pendidikan
dan keterampilan yang memadai. Sehingga keadaan ini akan menambah tenaga yang
tidak produktif dikota. Akibatnya, untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka
bekerja apa saja asalkan mendapatkan uang termasuk meminta-minta (mengemis).
Demi untuk menekan biaya pengeluaran, mereka memanfaatkan kolong jembatan,
stasiun kereta api, emperan took, pemukiman kumuh dan lain sebagainya untuk
beristirahat, mereka tinggal tanpa memperdulikan norma sosial.
Hidup
bergelandangan tidak memungkinkan orang hidup berkeluarga, tidak memiliki
kebebasan pribadi, tidak memberi perlindungan terhadap hawa panas ataupun hujan
dan hawa dingin, hidup bergelandangan akan dianggap hidup yang paling hina
diperkotaan. Keberadaan gelandangan dan pengemis (gepeng) di perkotaan sangat
meresahkan masyarakat, selain mengganggu aktifitas masyarakat di jalan raya,
mereka juga merusak keindahankota. Dan tidak sedikit kasus kriminal yang
dilakukan oleh mereka, seperti mencopet bahkan mencuri dan lain-lain.Oleh sebab
itulah, apabila masalah gelandangan dan pengemis tidak segera mendapatkan
penanganan, maka dampaknya akan merugikan diri sendiri, keluarga, masyarakat
serta lingkungan sekitarnya.
Untuk
mengatasi masalah gelandangan dan pengemis (gepeng), pemerintah mengutus Polisi
Pamong Praja Satpol PP untuk merazia semua gelandangan dan pengemis (gepeng)
yang ada diseluruh sudut kota Medan, untuk kemudian dijaring dan
ditampung di Liponsos (lingkungan pondok sosial) Dinas Sosial Kota Medan. Hal
ini bertujuan untuk membersihkan kota dari gelandangan dan pengemis, serta
berupaya untuk memberikan penyadaran kepada mereka.Hal ini tentu sangat
memprihatinkan sekali, mereka harus saling berdesak-desakan dalam ruangan yang
sempit itu.Kondisi melebihi batas normal membuat Unit Pelaksana Teknis (UPT)
Liponsos Keputih sulit untuk mengatur tempat tidur untuk para pengemis dan
gepeng. Akibatnya, banyak yang terpaksa tidur di tikar dan lantai, karena
jumlah kasur yang tersedia terbatas. Kondisi yang memprihatinkan tersebut
ditambah lagi dengan keadaan lingkungan liponsos yang sangat kumuh dan tidak
layak huni khususnya pada bangunan untuk psikotic laki-laki dan perempuan.
Bayangkan saja, mereka hidup dan beraktifitas dalam ruangan kumuh, berdesak-desakan
dan bercampur baur dengan kotoran mereka sendiri, sungguh pemandangan yang
sangat memprihatinkan.
B. Rumusan Masalah
Dari
latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
Apa saja faktor yang menyebabkan munculnya gelandangan di kota Medan khususnya
daerah Aksara ?
C. Tujuan
Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah di atas maka
penelitian ini bertujuan sebagai berikut :
Agar mahasiswa mampu
memahami faktor penyebab, dampak dan upaya penanggulangan dari masalah
Gelandangan dan Pengemis.
BAB II
PEMBAHASAN
- Pengertian
Gepeng merupakan Orang-orang yang tidak mempunyai tempat
tinggal dan tidak mempunyai pekerjaan. Gepeng juga bisa di sebut orang
miskin atau orang yang tidak mampu.
Banyak pemahaman tentang kemiskinan yang di
kemukakan para ahli, salah satu pemahaman yang dimaksud dikemukakan Bank dunia
(1990) dan Chambers (1987) (dalam Mikkelsen,2003:193) yang memandang kemiskinan
sebagai :
“Suatu kemelaratan dan ketidakmampuan
masyarakat yang diukur dalam satu standar hidup tertentu yang mengacu kepada
konsep miskin relatif yang melakukan analisis perbandingan di negara-negara
kaya maupun miskin. Sedangkan konsep absolut dari kemiskinan adanya wabah kelaparan,
ketidakmampuan untuk membesarkan atau mendidik anak-anak lain”
Sedangkan pemahaman tentang masalah
kemiskinan, menurut Sumodiningrat (1999 : 45) :
“Masalah kemiskinan pada dasarnya bukan saja
berurusan dengan persoalan ekonomi semata, tetapi bersifat multidimensional
yang dalam kenyataannya juga berurusan dengan persoalan-persoalan non-ekonomi
(sosial, budaya, dan politik). Karena sifat multidimensionalnya tersebut, maka
kemiskinan tidak hanya berurusan dengan kesejahteraan materi (material well-being),
tetapi berurusan dengan kesejahteraan sosial (social well-being).”
Dari pandangan di atas
diperoleh suatu konsep pemahaman bahwa kemiskinan pada hakekatnya merupakan
kebutuhan manusia yang tidak terbatas hanya pada persoalan-persoalan ekonomi
saja. Karena itu, program pemberdayaan masyarakat miskin sebaiknya tidak
terfokus pada dimensi pendekatan ekonomi saja, tetapi juga memperhatikan
dimensi pendekatan lain, yaitu pendekatan peningkatan kualitas sumber daya
manusia dan sumber daya sosial. Menurut Supriatna (1997:90) :
“Kemiskinan merupakan kondisi yang serba
terbatas dan terjadi bukan atas kehendak orang yang bersangkutan. Penduduk
dikatakan miskin bila ditandai oleh rendahnya tingkat pendidikan, produktivitas
kerja, pendapatan, kesehatan dan gizi serta kesejahteraan hidupnya, yang
menunjukkan lingkaran ketidakberdayaan.”
Menurut Kartasasmita
(1996:240-241), kondisi kemiskinan dapat disebabkan sekurang-kurangnya empat
penyebab :
“Pertama, rendahnya taraf pendidikan. Taraf
pendidikan yang rendah mengakibatkan kemampuan pengembangan diri terbatas dan
menyebabkan sempitnya lapangan kerja yang dapat dimasuki. Dalam bersaing untuk
mendapatkan lapangan kerja yang ada, taraf pendidikan menentukan. Taraf
pendidikan yang rendah juga membatasi kemampuan untuk mencari dan memanfaatkan
peluang.
Kedua, rendahnya derajat kesehatan. Taraf kesehatan dan gizi yang rendah menyebabkan rendahnya daya tahan fisik, daya pikir, dan prakarsa.
Ketiga, terbatasnya lapangan kerja. Keadaan kemiskinan karena kondisi pendidikan dan kesehatan diperberat oleh terbatasnya lapangan pekerjaan. Selama ada lapangan kerja atau kegiatan usaha, selama itu pula ada harapan untuk memutuskan lingkaran kemiskinan itu.
Keempat, Kondisi keterisolasian. Banyak penduduk miskin, secara ekonomi tidak berdaya karena terpencil dan terisolasi. Mereka hidup terpencil sehingga sulit atau tidak dapat terjangkau oleh pelayanan pendidikan, kesehatan dan gerak kemajuan yang dinikmati masyarakat lainnya.”
Kedua, rendahnya derajat kesehatan. Taraf kesehatan dan gizi yang rendah menyebabkan rendahnya daya tahan fisik, daya pikir, dan prakarsa.
Ketiga, terbatasnya lapangan kerja. Keadaan kemiskinan karena kondisi pendidikan dan kesehatan diperberat oleh terbatasnya lapangan pekerjaan. Selama ada lapangan kerja atau kegiatan usaha, selama itu pula ada harapan untuk memutuskan lingkaran kemiskinan itu.
Keempat, Kondisi keterisolasian. Banyak penduduk miskin, secara ekonomi tidak berdaya karena terpencil dan terisolasi. Mereka hidup terpencil sehingga sulit atau tidak dapat terjangkau oleh pelayanan pendidikan, kesehatan dan gerak kemajuan yang dinikmati masyarakat lainnya.”
Keempat penyebab tersebut menunjukkan adanya
lingkaran kemiskinan. Rumah tangga miskin pada umumnya berpendidikan rendah dan
terpusat di daerah pedesaan. Karena pendidikan rendah, maka produktivitasnya
pun rendah sehingga imbalan yang diterima tidak cukup memadai untuk memenuhi
kebutuhan hidup minimum, antara lain kebutuhan pangan, sandang, kesehatan,
perumahan, dan pendidikan, yang diperlukan untuk dapat hidup dan bekerja.
Gelandangan dan
Pengemis (GEPENG) adalah orang-orang yang hidup dalam keadaan tidak sesuai dengan
norma kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat, serta tidak mempunyai
tempat tinggal dan pekerjaan yang tetap di wilayah tertentu dan hidup
mengembara di tempat umum dan mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di
muka umum dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari
orang lain.
Di lingkuangan aksara
lebih tepatnya di lampu merah dekat Ramayana terdapat sekitar 14 orang Gepeng
yang mempunyai latar belakang kehidupan yang berbeda.
Selain itu, dampak yang ditimbulkan oleh mereka sangat meresahkan masyarakat. Mulai dari tingkat kriminalitas yang tinggi, menyebabkan kemacetan di sekitar jalan raya dan mengganggu kenyamanan pengguna jalan.
Selain itu, dampak yang ditimbulkan oleh mereka sangat meresahkan masyarakat. Mulai dari tingkat kriminalitas yang tinggi, menyebabkan kemacetan di sekitar jalan raya dan mengganggu kenyamanan pengguna jalan.
Aksara menjadi tempat
mereka melakukan kegiatannya karena merupakan tempat yang ramai dan
memungkinkan untuk mendapat uang yang banyak melalui meminta-minta, mengamen
dan lain-lain.
B. Faktor
Penyebab
faktor-faktor yang menjadi penyebabnya adanya
pengemis di kota Medan khusunya Aksara sebagai berikut :
1. Urbanisasi
Dari 14 orang gelandangan yang berada di
sekitar Aksara 10 orang diantaranya bukan merupakan penduduk asli kota medan.
Mereka merupakan orang-orang yang berasal dari luar daerah (kota medan)
misalnya dari daerah Jawa, Riau dan lainnya. Kebanyakan dari mereka melakukan
urabanisasi ke Medan untuk mencoba meningkatkan taraf hidup yang masih kurang
di kampung. Ini sesuai dengan data dari Dinas Sosial dan Tenaga Kerja bahwa 90%
gepeng di kota Medan berasal dari luar daerah
2. Rendahnya keterampilan
Rendahnya keterampilan merupakan faktor
intrinsik yang sangat berpengaruh . Orang-orang yang datang ke kota Medan untuk
merantau tanpa sebuah keahlian menjadikan peluang hidup seseorang tersebut
sangat minim. Mereka datang ke Medan tanpa sebuah persiapan yang matang, mereka
hanya bermodalkan semangat serta iming-iming mendapat pekerjaan yang lebih baik
di Medan. Terbukti dari hasil survey yang kami lakukan di Aksara,
gepeng yang berada di daerah itu tidak mempunyai skill atau ketrampilan
tertentu yang dapat menunjang seseorang untuk mendapatkan pekerjaan.
3. Pendidikan Rendah
Sekitar 95 % gepeng di aksara sangat
minim dunia pendidikan. Kebanyakan dari mereka hanya tamatan SD bahkan ada yang
belum sekolah. Ini membuat sulit bersaing untuk hidup di daerang yang biaya
hidupnya lumayan mahal seperti kota Medan ini
4. Mempunyai kelemahan fisik atau penyakit.
Terdapat sekitar 3 orang di antara
gepeng-gepeng di aksara yang menderita cacat fisik dan penyakit semacamnya.
Sehingga mereka terbatas untuk melakukan pekerjaan. Faktanya, yang normal saja
susah untuk bekerja, apalagi yang cacat. Terlebih mereka tidak mempunyai
keluarga yang dapat mengurusi mereka dan memberi mereka kehidupan yang layak.
5. Lingkungan
Saat ini, ada beberapa orang anak yang menjadi
gepeng dikarenakan terlahir dilingkungan gepeng. Artinya, Anak-anak yang
terlahir dari orang tua yang sebagai gepeng, secara tidak langsung telah
menambah jumlah gepeng dengan proses kelahiran. Ini menjadi faktor yang juga
sangat memprihatinkan. Nantinya anak-anak tersebut akan kesulitan juga untuk
mendapat pendidikan dan kehidupan yang layak.
Dari sekian faktor yang ada, ada 5 faktor yang
menjadi penyebab adanya gelandangan di Aksara yaitu Urbanisasi, Keterampilan,
Pendidikan, Kelemahan Fisik dan Lingkungan. Hal itu menjadi dasar yang membuat
orang-orang tersebut terpaksa menjadi Gepeng.
C. Dampak
dari GEPENG
1.
Masalah lingkungan (tata ruang).
mengangu ketertiban umum, ketenangan masyrakat
dan kebersihan serta keindahan kota.
2. Masalah kependudukan
tidak memiliki kartu identitas (KTP/KK) yang
tercatat di kelurahan (RT/RW) setempat dan sebagian besar dari mereka hidup
bersama sebagai suami istri tampa ikatan perkawinan yang sah.
3. Masalah keamanan dan ketertiban
menimbulkan kerawanan social, mengganggu
keamanan dan ketertiban di wilayah tersebut.
4.
Masalah kriminalitas
kriminalitas yang di lakukan oleh para
gelandangan dan pengemis di tempat keramaian mulai dari pencurian, kekerasan
hingga pelecehan seksual sangat kerap terjadi.
D. Upaya
Penanggulangan
Berdasarkan data dari
Dinas Sosial dan Tenaga Kerja, Sebelumnya pernah dilakukan penertiban kepada
para Gepeng di Kota Medan termasuk lingkungan Aksara. Seperti Penertiban yang
pernah dilakukan pada Tahun 2013, Dari hasil razia dan penertiban, anjal dan
pengemis selama tahun 2013 sebanyak 151 orang dan langsung dibawa ke panti
asuhan Pungi di Binjai karena Kota Medan belum memiliki panti asuhan untuk
membina mereka yang kena jaring saat razia.Selama di panti asuhan mereka
mendapat pembinaan bahkan diajari berkarya agar bisa mandiri. Selain itu,
terdapat anak-anak dibawah umur (18 tahun), mereka di beri beasiswa agar dapat
meneruskan sekolah dan tidak kembali ke jalan. Namun kenyataannya setelah
keluar, mereka kembali lagi ke jalanan. Pasalnya tidak ada tempat menetap.
Hal ini membuat pemerintah kewalahan untuk mengurangi gepeng di kota medan yang diperkirakan berjumlah sekitar 500 orang. Namun dalam hal ini, pemerintah terus berusaha melakukan razia untuk menekan angka tersebut walaupun untuk memberantasnya masih sulit.
Hal ini membuat pemerintah kewalahan untuk mengurangi gepeng di kota medan yang diperkirakan berjumlah sekitar 500 orang. Namun dalam hal ini, pemerintah terus berusaha melakukan razia untuk menekan angka tersebut walaupun untuk memberantasnya masih sulit.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Gepeng adalah orang-orang yang hidup dalam
keadaan tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat
setempat, serta tidak mempunyai tempat tinggal dan pekerjaan mereka
meminta-minta di muka umum dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharapkan
belas kasihan dari orang lain. Salah satu area yang rawan gepeng adalah Lampu
merah dekat Ramayana Aksara. Tempat itu mereka melakukan kegiatannya karena
merupakan tempat yang ramai dan memungkinkan untuk mendapat uang yang banyak
melalui meminta-minta, mengamen dan lain-lain. Dari sekian faktor yang ada, ada
5 faktor yang menjadi penyebab adanya gelandangan di Aksara yaitu Urbanisasi,
Keterampilan, Pendidikan, Kelemahan Fisik dan Lingkungan. Hal itu menjadi dasar
yang membuat orang-orang tersebut terpaksa menjadi Gepeng. Dampak yang
ditimbulkan oleh mereka sangat meresahkan masyarakat, mulai dari masalah
lingkungan, kependudukan, keamanan dan ketertiban serta kriminalitas.
Berdasarkan data dari Dinas Sosial dan Tenaga
Kerja, Sebelumnya pernah dilakukan penertiban kepada para Gepeng di Kota Medan
termasuk lingkungan Aksara. Namun kenyataannya setelah keluar, mereka kembali
lagi ke jalanan. Pasalnya tidak ada tempat menetap ditambah tidak adanya panti
asuhan unutk menampung mereka untuk dineri pengarahan dan ketrampilan di kota
Medan sehingga membuat pemerintah kesulitan untuk menuntas Gepeng di kota
Medan.
B. Penutup
Sebaiknya pemerintah agar memperhatikan
gelandangan dan pengemis dengan memberikan bimbingan bukan dengan penangkapan
secara keras, karena bagaimana pun juga mereka adalah anak bangsa yang
mempunyai hak untuk mendapatkan hidup layak serta pendidikan dan perhatian,
karena kami yakin jika mereka di berikan kesempatan untuk mendapat pendidikan
dan perekonomian yang baik tentunya kelak mereka dapat mengaharumkan nama
Negara dan bangsa dan juga dapat mengurangi permasalahan sosial yangt erjadi di
Indonesia saat ini. Kami juga menghimbau kepada keluarga agar dapat memberikan
pola asuh yang baik,sehingga tidak mendorong anak-anak penerus bangsa
terjerumus didalam kehidupan sosial yang menyimpang. Upaya penanggulangan akan
lebih baik lagi jika pemerintah menyediakan panti sosial yang mempunyai
program dalam bidang pelayanan rehabilitasi dan pemberian bimbingan
keterampilan (workshop) bagi gelandangan dan pengemis sehingga mereka dapat
mandiri dan tidak kembali menggelandang dan mengemis, dll.
DAFTAR PUSTAKA
Nurmayanti, Dian Anggraini.2013. ‘Teori-teori
Kemiskinan’ dalam jurnal Dian Anggraini Nurmayanti (online), (http:www. http://dianggraini06.blogspot.com/teori -teori-kemiskinan) di
akses tanggal 2 Desember 2014.
Dinas Sosial dan Tenaga Kerja.2014. ‘KEWALAHAN TERTIBKAN ANJAL
DAN PENGEMIS, 90 PERSEN GEPENG BUKAN WARGA KOTA MEDAN’ dalam jurnal Dinas
Sosial dan Tenaga Kerja (online),(http: http://103.15.240.154/contentkategori-detail-4261) di akses 29 Nopember
2014.
Edi Suharto, Membangun Masyarakat, Memberdayakan Rakyat, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2009).
Miftachul Huda, Pekerjaan Sosial dan Kesejahteraan Sosial. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009).